Bacaan Talqin Mayit Arab Fix 【Extended】

Sebagian ulama mazhab Maliki memakruhkannya karena dianggap bukan merupakan amalan yang masyhur pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Bacaan Talqin Mayit (Arab, Latin, dan Artinya) Berikut adalah susunan teks talqin yang umum digunakan: 1. Pembukaan (Kalimat Tauhid)

Secara umum, terdapat variasi teks talqin yang berkembang di masyarakat, namun intinya adalah mengingatkan si mayit tentang Tuhan, Nabi, Agama, Kitab, dan Kiblatnya.

Uzkuril ‘ahdalladzī kharajta ‘alaihi min dārid dunyā, wa huwa syahādatu an lā ilāha illallāhu wa anna Muhammadar rasūlullāhi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, wa annal mauta haqqun, wa annal qabra haqqun, wa anna na’īmahu haqqun, wa anna ‘adzābahu haqqun, wa anna su’āla munkarin wa nakīri fīhi haqqun, wa annal ba‘tsa haqqun, wa annal hisāba haqqun.

"Ingatlah bahwa engkau telah rida Allah sebagai Tuhanmu, Islam sebagai agamamu, Muhammad SAW sebagai nabimu, Al-Qur'an sebagai imam (pedomanmu), Ka'bah sebagai kiblatmu, dan kaum mukmin sebagai saudaramu." bacaan talqin mayit arab

Setelah mengingatkan, mulaqqin kemudian membimbing jenazah untuk menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir.

اُذْكُرْ (اُذْكُرِي) مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا: شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَأَنَّكَ رَضِيْتَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا. وَأَنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ، وَأَنَّ الْقَبْرَ حَقٌّ، وَأَنَّ نَعِيْمَهُ حَقٌّ، وَأَنَّ عَذَابَهُ حَقٌّ، وَأَنَّ سُؤَالَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ فِيْهِ حَقٌّ، وَأَنَّ الْبَعْثَ حَقٌّ، وَأَنَّ الْحِسَابَ حَقٌّ، وَأَنَّ الشَّفَاعَةَ حَقٌّ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ، وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيْهَا، وَأَنَّ اللهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُوْرِ.

Allāhuma tsabbithu, Allāhuma tsabbithu, Allāhuma tsabbithu. Yā ... (sebut nama jenazah), idzā jā’akal-malakānil-muwakkalāni bika wa bi-amtsālika, falā yur‘ibāka wa lā yufzi‘āka, wa idzā sa’alāka: "Man Rabbuka? Wa mā dīnuka? Wa man nabiyyuka?" Faqul lahumā bilisānin fashīhin wa qalbin tsābit: "Allāhu Rabbī, wal-islāmu dīnī, wa Muhammadun shallallāhu ‘alaihi wa sallama nabiyyī". Panduan dan Etika Pelaksanaan Talqin

يَا عَبْدَ اللهِ، ابْنَ عَبْدَيِ اللهِ Untuk jenazah laki-laki: Yā ‘abdallāhi, ibna ‘abdayillāhi (Wahai hamba Allah, putra dari dua hamba Allah) Untuk jenazah perempuan: Yā amatallāhi, binta ‘abdayillāhi (Wahai hamba Allah perempuan, putri dari dua hamba Allah) Atau bisa juga dengan: Yā ‘abdallāhi, ibna Hawā (Wahai hamba Allah, putra dari Hawa) untuk laki-laki, dan Yā amatallāhi, binta Hawā untuk perempuan.

Talqin mayit adalah proses membimbing atau membacakan kalimat tauhid dan nasihat kepada jenazah yang baru saja dimakamkan. Secara harfiah, talqin berasal dari kata laqqana yang berarti mengajar atau menuntun.

Mereka bersandar pada hadis riwayat Imam Thabrani dari Abu Umamah Al-Bahili, serta atsar (perkataan) para sahabat nabi di wilayah Syam. Selain itu, mereka memandang talqin sebagai bentuk doa keteguhan ( tsabat ) bagi mayit yang sedang menghadapi fase awal alam kubur. 2. Pandangan yang Memperbolehkan atau Mubah Pada bagian ini

Secara bahasa, kata "talqin" (تلقين) berasal dari bahasa Arab yang berarti tafhīm , yaitu memberi pemahaman atau mengajarkan. Dalam kamus al-Munjid , kata ini didefinisikan sebagai memberi pemahaman secara langsung dari mulut ke mulut. Sementara itu, secara istilah dalam konteks kematian, talqin memiliki dua pengertian utama:

Mengingat adanya perbedaan pendapat yang mu'tabar (diakui) di antara para fukaha, masyarakat diimbau untuk saling menghormati. Bagi yang mengamalkannya, hal tersebut didasarkan pada pendapat para ulama otoritatif seperti Imam Nawawi. Sementara bagi yang tidak mengamalkannya, mereka mencukupkan diri dengan doa lepas untuk memohonkan ampunan bagi jenazah sebagaimana yang lazim dicontohkan Rasulullah SAW. Kesimpulan

: Orang yang membaca talqin (biasanya kiai, ustaz, atau perwakilan keluarga) duduk di arah kepala jenazah menghadap ke arah wajah jenazah (menghadap kiblat atau menyampingi kubur tergantung posisi).

Pada bagian ini, si pembaca akan menyapa jenazah dengan panggilan yang sesuai. Tanda kurung ( ) menunjukkan variasi untuk jenazah perempuan.

Jika nama ibu kandungnya tidak diketahui, maka sebagian ulama menganjurkan untuk menisbatkannya kepada Ibunda Hawa (Istri Nabi Adam AS), contohnya: "Ya Ahmad bin Hawa" . Panduan dan Etika Pelaksanaan Talqin